Friday, January 28, 2011

Isolasi sosial

Isolasi Sosial


               ISOLASI  SOSIAL
1.      Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan hubungan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 1998). Ahli lain berpendapat Isolasi sosial adalah perasaan kesendirian yang dirasakan oleh seseorang individu telah menjauhi orang lain dan individu tersebut memandangnya sebagai sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam dirinya (McFarland dan McFarlane, 1997)
Isolasi sosial adalah usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi dan kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain  (Hamid et al, 1996).
Manusia sebagai makhluk sosial akan membutuhkan orang lain dan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosialnya. Seseorang yang mengalami isolasi sosial ini secara otomatis mengalami gangguan hubungan sosial.
Gangguan hubungan sosial ini dapat terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang akan menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan interpersonal (Hamid et al : 2000). Bentuk isolasi sosial yang sering didapati oleh perawat pada klien yang mengalami gangguan jiwa adalah menarik diri. Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993 dikutip oleh Keliat et al, 2002).
Dalam arti yang lebih luas lagi, menarik diri adalah suatu pola tingkah laku menghindari kontak dengan orang lain, situasi atau lingkungan yang penuh dengan stress yang menyebabkan kecemasan secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, individu dengan menarik diri cenderung untuk menghindari hubungan interpersonal.
Tingkah laku menarik diri umumnya merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman hidup yang menyakitkan dan mempengaruhi perkembangan individu. Sebagai contoh, suatu kegagalan yang dialami seseorang dalam hudup dan intensitasnya yang berulang-ulang akan memberikan gambaran yang negatif kepada individu tersebut dan mengakibatkan timbulnya perasaan tidak mampu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan harapannya, dan akhirnya individu tersebut akan merasakan perasaan harga diri rendah dan kecemasan yang tinggi untuk mencoba sesuatu yang baru. Kondisi menarik diri ini sering menyebabkan seseorang lebih suka berdiam diri dan kegiatan sehari-hari terabaikan termasuk kebutuhan perawatan dirinya. Harga diri rendah yang dialami klien dapat juga menyebabkan perilaku klien yang tidak terkontrol dan cenderung untuk melakukan perilaku kekerasan.
2.      Penyebab
Perilaku menarik diri yang sering terjadi biasanya di sebabkan oleh gangguan konsep diri, yaitu harga diri rendah. Dapat tergambar dengan perilaku individu yang kurang percaya diri, merasa tidak mampu. Hal ini disebabkan adanya kegagalan–kegagalan membina hubungan yang terjadi di sepanjang daur kehidupan yang telah dilalui di masa lampau atau disebabkan oleh kegagalan dalam merealisasikan keinginan, harapan dan cita-cita.
3.      Tanda-tanda menarik diri
Tingkah laku yang timbul pada klien menarik diri yaitu kurang spontan, apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun atau tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat, mengisolasi diri (menyendiri), klien tampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan, tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya, asupan makanan dan minuman terganggu, retensi urine dan feces, aktivitas menurun, kurang energi (tenaga), harga diri rendah, posisi janin pada saat tidur, menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap (Keliat et al, 2002).
Ketika berinteraksi dengan perawat, klien menyatakan dirinya tidak berguna, malu bergaul dengan orang lain karena jelek, sudah tua. Ketika diajak untuk berhubungan dengan klien lain selalu mengatakan, “tidak ah, saya mau disini saja”. Ketika ditanya tentang mandi, menggosok gigi dan bersisir klien mengatakan, “malas”, “tidak mau”, “ya, nanti saja”.
4.      Faktor predisposisi
Beberapa faktor predisposisi (pendukung) terjadinya gangguan hubungan sosial yaitu (Keliat et al, 2002) :
a.   Faktor perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya stimulasi kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari ibu (“pengasuh”) pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya.
b.      Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu factor pendukung gangguan jiwa. Berdasarkan hasil penelitian, pada kembar monozigot apabila salah satu di antaranya menderita skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot persentasenya 8%.
Kelainan pada struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perubahan struktur limbic diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
c.       Faktor sosial budaya
Isolasi sosial : menarik diri dapat disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, penyakit kronis dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

5.   Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan faktor eksternal seseorang (Hamid et al, 2000).
a.       Faktor internal
Sebagai contoh adalah stressor psikologi, yaitu stress terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi secara bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.
b.      Faktor eksternal
Sebagai contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya yang antara lain oleh keluarga.

    6.  Penatalaksanaan
        Penatalaksanaan yang  diberikan kepada klien dengan masalah utama isolasi sosial : menarik diri adalah :
a.       Chlorpromazine (CPZ)
Merupakan obat antipsikosis dengan nama dagang : Largactil, Promactil, Ethibernal. Indikasinya yaitu sindroma psikosis dengan hendaya berat dalam menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, hendaya berat pada fungsi mental dengan manifestasi : gangguan asosiasi pikiran (inkoheren), isi pikir tidak wajar (waham), gangguan persepsi halusinasi, gangguan perasaan, perilaku aneh dan tidak terkendali. Hendaya berat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dengan manifestasi : tidak mau bekerja, hubungan sosial/kegiatan rutin. Kontra indikasinya antara lain : penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS depresan.  Mekanisme kerja obat ini yaitu : memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal. Efek sampingnya adalah sedasi , gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatoliptik : mulut kering, dan kesulitan miksi serta defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan introkuler tinggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra piramidal (distonia akut, akathisia, sindroma parkinson : tremor, bradikinesia, rigiditas) gangguan endokrin (amenore, ginekomastia), gangguan metabolik (Jaudice), hematologi (agranulositosis) biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
b.      Haloperidol (HP)
Indikasi obat ini adalah hendaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral dalam kondisi kehidupan sehari-hari. Kontra indikasinya adalah penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan obat, penyakit SSP serta gangguan kesadaran. Mekanisme kerja yaitu sebagai obat anti psikosis dalam memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal. Efek sampingnya antara lain sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik : mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat,  mata kabur dan tekanan intraokuler meningkat, gangguan irama jantung).
c.       Trihexilphenidil (THP)
Indikasi obat ini untuk segala jenis Parkinson termasuk pasca encefalitis dan idiopatik, sindroma parkinson akibat obat misalnya  reserpina dan fenotiazine. Kontra indikasinya antara lain : hipersensitif terhadap THP, glaukoma sudut sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostat dan obstruksi saluran cerna. Mekanisme kerja obat ini sinergis dengan kinidine, obat antidepresan trisiklik, dan antikolinergik lainnya. Fungsinya untuk mengatasi gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akathisia, sindrom parkinson).  Sedangkan efek sampingnya dapat berupa penglihatan kabur, mulut kering, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi, takikardi, dilatasi ginjal dan retensi urin.

d.        Penatalaksanaan

1.      Pengkajian

Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping yang dimiliki klien (Stuart dan Sundeen, 1995 dikutip oleh Keliat, 1998).
Pengkajian pada klien dengan masalah utama isolasi sosial : menarik diri yaitu :
a.         Faktor  Predisposisi
1)      Faktor perkembangan.
Semua hal yang menghambat perkembangan dapat menurunkan kemampuan berhubungan.
a)      Kurang rasa aman.
b)      Kurang stimulasi.
c)      Kurang perhatian.
2)      Faktor sosial budaya.
Pengasingan anggota keluarga yang tidak produktif.
b.        Faktor Presipitasi.
1)      Stressor sosial budaya.
a)      Keluarga yang labil.
b)      Di penjara.
c)      Dirawat jika dalam kondisi patologis.
d)     Kesepian dan pisah dengan orang yang dicintai.
2)      Stressor psikologis.
Cemas meningkat sehingga mengakibatkan menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
c.         Tingkah Laku.
1)      Tingkah laku klien curiga.
a)      Tidak mampu mempercayai orang lain.
b)      Bermusuhan.
c)      Mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
d)     Paranoid.
2)      Tingkah laku klien manipulasi.
a)      Ekspresi perasaan yang tidak logis dengan tujuan.
b)      Kurang asertif.
c)      Orang lain dijadikan objek untuk mencapai tujuan.
d)     Mengisolasi diri dari hubungan sosial.
3)      Tingkah laku klien menarik diri.
a)      Kurang asertif.
b)      Apatis.
c)      Aktivitas menurun.
d)     Tidak mampu merawat diri.
e)      Komunikasi verbal menurun atau tidak ada.
d.        Mekanisme koping .
1)          Klien curiga : proyeksi.
2)          Klien ketergantungan : regresi.
3)          Klien manipulasi : regresi, represi, isolasi.
4)          Klien menarik diri : regresi, represi, isolasi.
e.         Tanda dan gejala isolasi sosial.
1)   Data objektif :
Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menghindar dari orang lain atau menyendiri, kurang komunikasi, tidak ada kontak mata, sering menunduk, sering memutuskan hubungan, pergi bila diajak bicara, ADL menurun, posisi fetus saat tidur.
2)   Data Subjektif :
Ketika diajak untuk berhubungan dengan klien lain selalu mengatakan, “tidak ah, saya mau disini saja”. Ketika ditanya tentang mandi, menggosok gigi dan bersisir klien mengatakan, “malas”, “tidak mau”, “ya, nanti saja”. Data subyektif sulit didapatkan bila klien menolak untuk berbicara

2.      Permasalahan

a.       Resiko Perubahan persepsi sensori.
Subyektif :-
Obyektif :
1)      Beberapa kali dirawat di rumah sakit dengan alasan amuk.
2)      Klien memisahkan diri dari orang lain
3)      Klien lebih banyak tidur
b.      Isolasi sosial : Menarik diri.
Subyektif 
1)      Klien mengatakan malas untuk keluar rumah atau kamar.
2)      Klien mengatakan tidak ingin berbicara dengan siapapun dengan alasan malas dan tidak bisa menjawab pertanyaan bila ditanya.
Obyektif :
1)      Klien lebih banyak tiduran di kamar daripada keluar kamar.
2)      Klien tampak lesu dan hanya berbaring di tempat tidur saja.
3)       Klien hanya bicara bila ditanya saja dan berusaha menghindari interaksi dengan orang lain.
4)      Peran serta di lingkungan kurang dan jarang mengikuti kegiatan di lingkungannya.
c.       Gangguan konsep diri : Harga diri rendah (HDR).
Subyektif :
1)      Klien mengatakan bahwa dirinya merasa tidak bisa berbuat apa-apa,tak berguna.
2)      Klien mengatakan merasa malu dan takut untuk bergaul karena merasa tidak berguna.
Obyektif :
1)      Klien selalu menyendiri, banyak diam, menunduk bila berinteraksi, dan tidak mampu mempertahankan kontak mata.
2)      Klien hanya menjawab singkat dan seadanya bila ditanya dan tidak dapat memulai pembicaraan.

Waham

Waham


  1. Pengertian
Kepercayaan yang salah terhadap objek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya ( Rawlin, 1993 ).

Suatu sistem kepercayaan yang tidak dapat divalidasi / dipertemukan dengan realitas ( Haber, 1982 ).

Waham adalah gangguan proses pikir ditandai dengan keyakinan, ide – ide pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak dapat diubah dengan logika atau bukti – bukti yang nyata.
2.    Karakteristik perilaku
·         Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Tidak dapat membedakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata.
·         Mendomunasi pembicaraan.
·         Mudah tersinggung.
·         Menghindar dari orang lain.
·         Menolak makan.
·         Tidak ada perhatian terhadap perawatan diri.
·         Ekspresi muka sedih / gembira / ketakutan.
·         Gerakan tidak terkontrol.
·         Bicara kasar.
·         Menjalankan kegiatan kegamaan secara berlebihan atau tidak sama sekali.


3.    Kelainan delusi
Sebelum kelainan waham dirujuk sebagai kelainan paranoid, ini di karakteristikkan dengan waham yang memiliki durasi paling sedikit satu bulan.  Halusinasi tidak menonjol, prilaku, bagian dari waham, tidak bizar.
Tipe yang mengikutinya didasari pada tema waham yang utama ( DSM – III – R, 1987 ) :
1.     Tipe aniaya, Waham merupakan sesuata yang menimbulkan perasaan dengki yang menyenangkan bagi pasien dalam beberapa cara.
2.    Tipe cemburu, Seseorang meyakini bahwa pasangannya tidak setia / berbuat serong.
3.    Tipe eromatik, Waham dimana orang lain yang berstatus lebih tinggi sedang bercinta dengan dirinya.
4.    Tipe somatik, Waham dimana seseorang meyakini bahwa dirinya memiliki beberapa kecacatan, kelainan atau penyakit fisik.
5.    Tipe kebesaran, Waham dengan harga diri yang melambung, merasa berkuasa, berpengetahuan yang tinggi, memiliki identitas khusus dengan seseorang yang bersifat keTuhanan atau terkenal.

4.    Jenis – jenis Waham
·         Waham keagamaan : Keyakinan ia terhadap agama secara berlebihan diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
·         Waham kebesaran : ia yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuatan khusus, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham somatik : ia yakin bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham curiga : ia yakin bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham nihilistik : ia yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia / meninggal, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham sisip pikir : ia yakin ada ide pikiran yang disisipkan kedalam pikirannya, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham siar pikir : ia yakin orang lain mengetahui apa yang ia pikirkan walaupun tidak dinyatakan kepada orang itu, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham kontrol pikir : ia yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar, diucapkan beberapa kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

5.    Proses terjadinya Waham
a. Perasaan diancam oleh lingkungan, cemas dan merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi.
b.  Individu mencoba mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalah artikan kesan terhadap kejadian.
c.    Individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada linkungan sehingga perasaan, pikiran dan keinginan negatif / tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal.
d.    Individu mencoba memberi pembenaran / rasional / alasan interpretasi personal tentang realita pada diri sendiri dan orang lain.

Harga diri rendah

Harga Diri Rendah


Harga diri ( Self Esteem ) adalah ……… Penilaian individu tentang pencapaian diri dengan melakukan analisa diri terhadap seberapa jauh prilaku sesuai dengan ideal diri.
  • Pencapaian tujuan hidup atau cita – cita / keinginan / ideal diri / harapan yang secara langsung dapat mengakibatkan adanya perasaan berharga.
  • Individu yang selalu sukses maka memiliki tendensi harga diri yang tinggi namun sebaliknya jika tidak mencapai tujuannya individu merasa rendah diri.

Harga diri berkembang dari dua sumber yaitu :
  1. Diri sendiri
Individu dapat melakukan self reinforcement, merasa puas dengan dirinya, merasa di cintai dan tidak mengecilkan diri.
  1. Orang lain
Individu menerima reinforcement ( dihargai ), dicintai, diperhatikan.
  • Harga diri menjadi rendah jika individu tidak mendapatkan afeksi, mengalami proses kehilangan atau perginya orang yang mencintai / dicintai, gagal menerima reinforcement.
  • Harga diri berkembang sejak masa kanak – kanak yang diperoleh individu berdasarkan adanya penerimaan, penghargaan serta pujian.
  • Harga diri sangat rentan terjadi gangguan pada masa remaja dan usia lanjut.
  • Harga diri tinggi terkait erat dengan penurunan ansietas, efektif dalam kelompok, diterima oleh lingkungan.
  • Harga diri rendah terkait erat dengan buruknya hubungan secara interpersonal.
  • Gangguan harga diri ( Harga diri rendah ) merupakan suatu keadaan yang digambarkan sebagai adanya perasaan yang negatif terhadap diri sendiri termasuk kehilangan rasa percaya diri dan merasa selalu gagal mencapai tujuan.

Harga diri dapat terjadi secara :
  1. Situasional
Trauma secara tiba – tiba, misalnya harus operasi, mengalami kecelakaan, perceraian, putus sekolah, PHK, dipenjara, diperkosa sehingga merasa malu.
2.    Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri ( Negatif Self Evaluation ) yang telah berlangsung lama dan hal ini dapat diekspresikan oleh klien secara langsung atau pun tidak langsung.

Faktor yang mempengaruhi Harga Diri Rendah :
1.     Perkembangan individu
·         Adanya penolakan dari orang tuannya sehingga anak merasa tidak dicintai kemudian dampaknya anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal pula untuk mencintai orang lain.
·         Kurangnya pujian dan kurang pengakuan dari orang tuannya atau orang penting / dekat dengan individu yang bersangkutan.
·         Sikap orang tua yang over protecting, budaya permisif, anak merasa tidak berguna, orang tua atau orang terdekat sering mengkritik serta menurtnkan individu.
·         Frustasi, putus asa, merasa tidak berguna dan merasa rendah diri.
2.    Ideal diri
·         Individu selalu dituntut untuk selalu berhasil.
·         Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.
·         Anak dapat menghakimi diri sendiri dan hilangnya rasa percaya diri.
3.    Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga merasa ragu atau malu dan rendah diri.
4.    Sistem keluarga yang tidak berfungsi.
·         Umpan balik yang dapat merusak harga diri anak.
5.    Pengalaman traumatik berulang :
·         Aniaya fisik, mental, emosi, sexual, kecelakaan, bencana alam, perampokan.
·         Respon terhadap trauma pada umumnya akan mengubah arti trauma tersebut dan kopingnya adalah represi dan denial.

Tanda dan gejala Harga Diri Rendah
1.     Mengkritik diri sendiri secara berlebihan
2.    Harapan yang selalu negatif
3.    Rasa bersalah pada diri dan malu
4.    Penuh dengan kekhawatiran / ketakutan
5.    Terganggunya self care
6.    Tidak bersalah
7.    Keterbatasan untuk mempercayai orang lain
8.    Tidak mampu menerima reinforcement
9.    Adanya prilaku merusak diri
10.  Adanya gangguan hubungan sosial

Masalah
1.     Gangguan harga diri : harga diri rendah situasional atu kronis
2.    Keputusasaan
3.    Isolasi sosial, menarik diri
4.    Resiko prilaku kekerasan

Akuuuur


Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubunganyang melibatkan pengetahuanpenghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruismeselera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.
Disiplin-disiplin utama yang mempelajari persahabatan adalah sosiologiantropologi dan zoologi. Berbagai teori tentang persahabatan telah dikemukakan, di antaranya adalah psikologi sosialteori pertukaran sosialteori keadilandialektika relasional, dan tingkat keakraban. Lihat Hubungan antar-pribadi